Sebelum
memulai pendakian sebagian dari kami istirahat makan siang, dan melakukan
aktivitasnya masing–masing seperti ke toilet, sholat, dan foto–foto, packing
ulang barang–barang dan lain sebagainya. Seperti biasa sebelum memulai
pendakian kita foto–foto dulu dan berdoa, mengharap akan ridho Tuhan untuk
menjaga dan melindungi kami dari segala mara bahaya. Bismillahirrohmanirrohim.. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku
perkenankan bagimu kemuliaan”
| foto sebelum pendakian |
Dimulailah
petualangan kita, *wuuuusssss
Sepanjang
perjalanan ternyata aku lebih suka untuk fokus berjalan didepan karena bisa
menunggu sambil sesekali mengistirahatkan kaki, menikmati lebih lama
perjalanan, dan tidak banyak energi yang terkuras. Hehe..
Malamnya
sebelum aku pergi ke Papandayan, aku ditahan dan diceramahin panjang kali lebar
sama dengan luas oleh Nadhirah
sahabatku yang selalu menghawatirkan selalu apa yang aku lakukan termasuk
dengan hobby baruku, naik gunung -.-\. Awalnya aku tidak diperbolehkannya untuk
ikut dalam rombongan ini, “ntar sapa yang mau jaga kamu disana kii, udah nanti
aja bareng sama gue”. Kan ada Allah yang slalu ngejagain aku siang dan malam,
jawabku *lalu dicubit :p. “Papandayan itu landay tapi jaraknya cukup jauh, dan
disana itu dingin, gue tau lo gak bisa banget kena dingin. Gue gak mau lo nanti
ditinggalin karena kecapean atau sakit” wejangan menambah durasi karena dia tau
aku lagi “halangan” dan belum olahraga. *Cuma manggut-manggut*
Dasarnya
master Geologi, semua dijelasin secara rinci semua lempengan batu dan belerang
dan bla..blaa..bla.. yang dijelasinnya iya..iya aja padahal yang nyangkut cuma
beberapa kalimat saja :D. Dengan semua jurus mencoba meluluhkan hatinya untuk
mengizinkan aku pergi, agar aku belajar, belajar dengan alam. Belajar memahami
diri sendiri. Belajar ketika sejauh mana aku pergi, aku harus merindukan untuk
pulang. Akhirnya semua jurus itu tidak sia – sia, aku diizinkan pergi dengan
kucuran doa yang tiada henti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar