Mengumpulkan
Hikmah yang Tercecer
(dalam
Perjalanan Pergi dan Pulang Puncak Papandayan 2.662 Mdpl)
Bismillahirrohmanirrohim...
Syukurku atas semua nikmat yang telah Allah berikan
padaku, lewat alam nan indah dan penuh makna.
| Terminal Guntur, Garut |
Nunggu
Kak Dhio dateng, kita sarapan dulu
di warteg samping Masjid. Mengumpulkan stamina dan semangat untuk memulai
pendakian. *tik..tok..tik..tok* jam sudah menunjukkan hampir jam6 pagi, tapi
yang ditunggu belum terlihat bayangannya. Yaaaa... aku paling tidak suka
menunggu, tapi bukan dalam menunggunya tapi ke-tidak pastian yang ditunggu.
Barulah sekitar jam7 pagi sosok itu datang, *taraaaaaa....yang bawa logistik
muncul dengan memasang muka menyedihkan dan menggigil, batal deh acara ngacak –
ngacak dia. Hehehe~
Mulai
lah perjalanan kita, tapi tetep sabarnya masih diuji. Bus yang akan membawa
kita menuju terminal guntur Garut tidak ada, walhasil kita memutuskan untuk
naik elp.. elppppp me, mobil nya goyang – goyang diiringi lagu dangdut, masih
pagi broooh -.-\ Tapi semuanya terbayar
lunas tuntas, ketika turun dari mobil senyum mereka yang ku lihat.
Ternyata kali ini lebih rame daripada rombongan ke manglayang, *salim
dulu ah*
Karena
rombongan kita berjumlah 20 orang, akhirnya kita nyarter 2 mobil, untuk menuju
gerbang masuk Papandayan kita harus naik pickup. Dengan negosiasi alot yang
dilakukan Mbak Mimi, Bang Yani dan Bang Odhoy jadilah kita nyarter pickup dengan harga Rp. 200.000 atau Rp.
20.000/ orang.
*Next
Tidak ada komentar:
Posting Komentar