Rabu, 04 Juni 2014

Mengumpulkan Hikmah yang Tercecer *Episode 2


Mulailah menaikkan carrier dan atur posisi duduk: Bang Adhit, Bang Yuda, Mpok Kiki, Bibiw, Nuey, Desi, Bang Adhi, sebelah kiri aku ada Mbak Iis, yang baru kenal dipickup ini daaaaan.. helloww sebelah kananku ada Mas @sesiapa yang tidak mau disebut namanya. Di depan menemani mamang sopir ada Bang Yani, Mbak Jean, dan Mbak Mimi (kalau gak bener, berarti salah :D)
perjalanan menuju puncak papandayan
Meskipun dingin masih mendekap, jalanan berkerikil, berkelok, berkali – kali ‘terbang’ dan terjerembab, tapi kita tetap tersenyum dan bahagia. Berkali – kali terpental, merasakan sakit badan sana-sini, tapi kita tetap tesenyum dan bahagia. Meski ada yang terluka karenanya, tetap saling menjaga agar tetap bersama tersenyum dan bahagia. “Dibumi telah dibentangkan-Nya untuk mahluk-Nya, ada biji – bijian yang berkulit dan bunga – bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Perjalanan ini sungguh sangat melelahkan, tapi mengapa selalu senyum yang tersungging? mungkin karena kita sedang difoto? Tentu tidak! Tapi karena kami bersyukur; bersyukur pada Allah, bersyukur masih diberi nikmat sehat, bersyukur masih diberi rezeki untuk melakukan perjalanan, bersyukur dipertemukan dengan teman–temanJMaka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Tapi semua itu tidak berlangsung lama, kemudian kami bersyukur kembali tersenyum dan bahagia. Alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untukmu, Para Pengejar Mimpi

K ehidupan itu sulit untuk diprediksi. Rencana yang sudah sedemikian rupa dibuat terkadang bisa cacat, atau bahkan hancu...